24 Februari 2023
24 November 2024
IAIS Sambas lestarikan permainan tradisional melalui tugas mahasiswa
27 Agustus 2024
Semarak HUT RI Ke-79, Kecamatan Sadaniang Gelar Berbagai Kegiatan dan Perlombaan Permainan Tradisional
25 Agustus 2024
Perlombaan Permainan Tradisional Meriahkan HUT RI ke 79 Di Sadaniang
![]() |
| Foto: Lomba Menyumpit |
MEMPAWAH - Seolah belum usai untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79, Kecamatan Sadaniang merayakannya dengan mengadakan beragam kegiatan dan perlombaan permainan tradisional.
Perayaan HUT RI ini dipusatkan di Halaman Kantor Camat Sadaniang, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat dan digelar mulai tanggal 16 - 24 Agustus 2024.
Berbagai macam kegiatan diadakan mulai dari senam bersama, jalan sehat, lomba nyanyi lagu daerah, tarian adat, dan beberapa perlombaan permainan tradisional seperti lomba sumpit, dan katapel.
Semarak kemeriahan perlombaan diikuti seluruh masyarakat desa yang ada di Kecamatan Sadaniang. Tampak para suporter dari masing-masing peserta bersemangat mendukung perwakilan yang mengikuti lomba. Beberapa hadiah menarik telah disiapkan oleh panitia perlombaan agar menambah semangat para peserta lomba.
Ketua Panitia HUT RI Ke-79 Kecamatan Sadaniang, Ferdinand Ferdus mengatakan deretan acara agustusan ini bertujuan sebagai ajang silahturahmi antar sesama masyarakat sadaniang. Selain itu juga untuk mempersiapkan kedepannya tahun 2025 rencana naik dango itu ada di Kecamatan Sadaniang.
"Jadi, kita mengadakan pertandingan permainan tradisional salah satunya itu adalah Sumpit, dan mantes atau ketapel dalam bahasa biasanya disebut, serta karaoke tapi bernuansakan lagu-lagu daerah," kata Ferdinand Ferdus disela sela kegiatan.
![]() |
| Foto: Lomba Ketapel |
"Karena untuk kita meraih bibit kedepannya, ya mudah-mudahan moment ini bisa berlanjut, supaya tidak mengecewakan khalayak ramai khususnya di Kecamatan Sadaniang, itulah tujuan kita," sambungnya.
Pemilik sapaan Dudus ini berharap, semoga bibit-bibit permainan tradisional yang ada di Kecamatan Sadaniang bisa lebih meningkat, itu harapan kita. Dan jangan sampai pudar acara ini, kalau bisa lagi acara-acara tradisional yang lainnya bisa digabungkan ditambah lagi, seperti tari pilanuk atau tarian-tarian adat.
"Ya, mudah-mudahan di kedepannya nanti. Kita juga punya harapan kedepan itu jangan sampai musnahlah pertandingan permainan tradisional ini kita lanjutkan, jangan sampai hilang. Walaupun, mohon maaf kalau ada pergantian kepemimpinan. Tapi lanjutkan dan lanjutkan sampai lah kita sukses ke depannya. Sadaniang tetap Oke, terima kasih," ucap Ketua Panitia HUT RI Ke-79 Kecamatan Sadaniang mengakhiri.
Di malam ramah tamah yang dihadiri seluruh Kepala Desa yang ada di Kecamatan Sadaniang beserta Tamu Undangan dan masyarakat berbagai macam elemen.
Camat Sadaniang, Yusra beserta Forkopimcam menyerahkan piala serta hadiah untuk para juara peserta lomba dan piagam kepada anggota Paskibra Kecamatan Sadaniang yang telah bertugas. Dan acara ditutup dengan hiburan orgen tunggal. (Izr)
31 Juli 2023
FAD Sanggau Menggelar Outbound Memperingati Hari Anak Nasional 2023
17 April 2026
Naik Dango ke-3 Resmi Dimulai, Ritual Ngampar Bide Penuh Nilai Tradisi dan Spiritual
![]() |
| Foto: Ritual Adat Ngampar Bide Warnai Pembukaan Naik Dango ke-3 di Rumah Radangk |
PONTIANAK - Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak resmi membuka rangkaian kegiatan Naik Dango ke-3 melalui pelaksanaan ritual adat Ngampar Bide di Rumah Radangk Pontianak, Jumat (17/4/2026) pagi. Ritual sakral ini menjadi penanda dimulainya perayaan budaya tahunan yang akan berlangsung pada 20 hingga 25 April 2026.
Suasana khidmat menyelimuti Rumah Radangk saat para pengurus DAD Kota Pontianak menjalankan prosesi adat. Ritual dipimpin oleh seorang penyangahatn, Erdi atau yang akrab disapa Pak Gori, dengan dua tahapan utama, yakni nyanggahant mantak dan masak.
Dalam penjelasannya, Erdi menyampaikan bahwa Naik Dango merupakan wujud rasa syukur masyarakat Dayak atas hasil panen yang diperoleh selama satu tahun. Hasil pertanian seperti padi, jagung, timun, dan berbagai komoditas lainnya menjadi simbol kesejahteraan petani yang kemudian disimpan di dalam dango (lumbung padi) sebagai persiapan untuk musim tanam berikutnya.
“Padi yang telah dipanen akan dijemur, ditumbuk, dan disimpan dengan baik agar terhindar dari hama, sehingga dapat digunakan kembali sebagai bibit yang berkualitas untuk tahun depan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ritual Ngampar Bide memiliki makna penting dalam proses pengolahan padi, yakni untuk merontokkan bulir padi dari tangkainya serta memilah kualitasnya. Selain itu, bide juga digunakan sebagai alas untuk menjemur padi agar hasil pengeringan merata.
Lebih dari sekadar proses teknis pertanian, ritual ini juga sarat nilai spiritual sebagai ungkapan syukur kepada Jubata (Tuhan) atas hasil panen yang melimpah. Berbagai sajian adat seperti lemang, cucur, serta beras pulut turut dihadirkan sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat tani.
Sementara itu, Ketua Panitia Naik Dango ke-3 DAD Kota Pontianak, Vandektrus Derek, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan tahun ini akan diisi dengan berbagai agenda budaya, keagamaan, hingga edukasi.
“Hari ini kita melaksanakan Ngampar Bide sebagai bentuk permohonan restu kepada Jubata sekaligus pembukaan awal kegiatan. Sore harinya akan dilaksanakan misa syukur yang dipimpin sembilan pastor,” jelasnya.
Ia menambahkan, rangkaian kegiatan selanjutnya meliputi upacara adat Ngalanjukatn pada 18 April dini hari, seminar tentang hak masyarakat adat pada 19 April, serta karnaval budaya multi-etnis pada 20 April.
Puncak pembukaan Naik Dango dijadwalkan berlangsung pada 21 April dan akan dibuka oleh Wali Kota Pontianak, dengan kehadiran tamu dari Sarawak, Malaysia. Berbagai perlombaan tradisional seperti tari panompok, memasak panso, menumbuk padi, hingga permainan pangkak gasing turut memeriahkan acara.
Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan lebih dari 60 pelaku UMKM dan pedagang asongan sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Hiburan tradisional seperti jonggan serta penampilan artis Dayak turut menjadi daya tarik bagi masyarakat.
“Melalui Naik Dango, kita tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat toleransi dan kebersamaan antar-etnis di Kota Pontianak,” tutup Vandektrus.
Ritual Ngampar Bide pun menjadi simbol awal yang tidak hanya membuka rangkaian acara, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi, nilai spiritual, dan kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat Dayak. (Tim)
















