Berita Indokalbar.com: Rosadi Jamani hari ini

Masukkan Serial Number dibawah ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

Tampilkan postingan dengan label Rosadi Jamani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rosadi Jamani. Tampilkan semua postingan

01 Mei 2026

Tiga Hari di Kota Singkawang

Tiga Hari di Kota Singkawang
Tiga Hari di Kota Singkawang. 
Saya akhirnya mendarat di rumah. Tanah suci paling privat di republik ini. Tidak perlu izin, tidak perlu proposal, tidak perlu tanda tangan berlapis seperti proyek negara. Cukup buka pintu, peluk istri, rebahkan badan di bantal dan guling, lalu pandangi si kuning (Nohran), mobil yang lebih setia dari sebagian janji kampanye. Tiga hari di Singkawang selesai sudah. Tapi rasanya seperti habis ikut rapat nasional. Capek, kenyang, tercerahkan… dan sedikit ingin ketawa getir.

Singkawang, kota amoi yang sering dipoles jadi brosur wisata, ternyata lebih dari sekadar latar foto estetik. Di sana, saya bersama Prof Dr Chairil Effendi dan Pak Tan Shah Khumainy menggarap bahan ajar Bahasa Melayu Sambas di Dayang Resort. Kedengarannya sederhana, tapi percayalah, menyelamatkan bahasa itu lebih sulit dari menyelamatkan citra politikus menjelang pemilu. Bahasa tidak bisa disuap, tidak bisa dimanipulasi angka surveinya. Ia hidup kalau dipakai, mati kalau dilupakan. Sesederhana itu, dan sesulit itu.

Subuh tadi, Prof Chairil, orang asli Singkawang, mengajak kami keliling kota. Target utama, Warkop Nikmat. Legendaris, katanya. Tapi seperti banyak proyek besar di negeri ini, awalnya belum siap. Masih tutup. Kami pun mutar dulu, memberi kesempatan pada takdir untuk menyelesaikan “rapat internal”-nya. Saat kembali, akhirnya buka. Kami jadi pelanggan pertama. Ini sebuah prestasi lebih cepat dari realisasi anggaran triwulan pertama.

Saya langsung pesan Koptagul. Ini bukan sekadar kopi, ini prinsip hidup. Di mana pun saya berada, Koptagul adalah koalisi permanen. Lalu datang bubur nasi khas Singkawang. Lembut, hangat, jujur. Tidak seperti sebagian pidato yang keras di podium tapi lumer ketika diuji realitas. Di meja itu, saya sadar. Kadang kebahagiaan tidak perlu APBN, cukup sendok, mangkuk, dan kopi yang tidak PHP.

Perjalanan pulang berubah jadi seminar berjalan. Tanpa spanduk, tanpa honor panitia, tapi isinya kelas dunia. Prof Chairil bercerita tentang sastra Melayu seperti orang yang sedang membuka peta harta karun. Lalu muncullah karya beliau, “Bedande”. Sekitar 500 halaman, ditulis dalam Bahasa Sambas. Ini bukan buku biasa, ini semacam “UU Bahasa” versi senyap, tidak diperdebatkan di parlemen, tapi dampaknya nyata. Di tengah dominasi naskah lama beraksara Arab Melayu dengan logat Lingga Riau, buku ini seperti oposisi yang cerdas, tidak ribut, tapi substansinya mengguncang.

Saya yang darah penulisnya kadang naik, langsung menawarkan kolaborasi novel. Menovelkan cerita rakyat dengan sentuhan modern. Sayang kisah dengan alur cerita unik yang dituturkan beliau hilang begitu saja. Wajib dinovelkan. Ia sangat setuju. Tinggal menunggu waktu yang pas untuk mewujudkannya. Doakan ya, wak!

Mobil terus meluncur. Ia tetap santai nyetir. Di Peniti Luar, kami berhenti di pondok pengkang. Nasi pulut isi ebi, dibakar, lalu dicocol sambal kerang kepah. Rasanya? Seperti kebijakan yang tepat sasaran. Jarang terjadi, tapi sekali kena, langsung menggetarkan. Ini bukan sekadar makanan. Ini arsip budaya yang tidak pernah masuk berita utama, tapi justru itulah yang menjaga identitas kita tetap utuh.

Setelah kenyang, kami tancap gas. Target berikutnya, salat Jumat di Pontianak. Kami berhasil. Salat di masjid samping Kantor MABM Kalbar, lalu diantar pulang oleh Prof Chairil. Sederhana, tanpa protokoler, tanpa sirine pengawal. Tapi justru di situlah letak kemewahannya.

Tiga hari di Singkawang mengajarkan satu hal, peradaban tidak dibangun oleh pidato panjang dan baliho besar, tapi oleh kerja-kerja sunyi, menulis buku, menjaga bahasa, menyeduh kopi, dan berbagi cerita di jalan pulang. Sementara di luar sana, orang sibuk berebut kursi, di sini ada yang sibuk menjaga makna.

Ketika semua selesai, kita pulang. Ke rumah. Tempat di mana tidak ada debat kusir, tidak ada janji kosong. Hanya ada kehangatan yang tidak perlu divalidasi siapa pun.

Kadang hidup memang lucu. Yang benar-benar penting justru tidak pernah masuk trending. Tapi justru itulah yang membuatnya abadi.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM