Berita Indokalbar.com: Daerah hari ini

Masukkan Serial Number dibawah ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

28 April 2026

Gubernur Kalbar Temui Demonstran, Paparkan Konflik Air Upas dan IPM

Gubernur Kalbar Ria Norsan menemui demonstran dan menjelaskan konflik Air Upas, progres jalan provinsi, serta peningkatan IPM Kalimantan Barat hingga 2026.
Gubernur Kalbar Ria Norsan menemui demonstran dan menjelaskan konflik Air Upas, progres jalan provinsi, serta peningkatan IPM Kalimantan Barat hingga 2026.

PONTIANAK - Aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Kalimantan Barat pada Senin (27/4/2026) menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah provinsi dan massa demonstran. Dalam pertemuan tersebut, Ria Norsan bersama Krisantus Kurniawan memilih turun langsung menemui peserta aksi untuk memberikan penjelasan terkait sejumlah isu yang menjadi sorotan publik.

Dialog berlangsung di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Barat dengan fokus utama pada konflik sosial di wilayah Air Upas, kondisi infrastruktur jalan provinsi, serta perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kalimantan Barat.

Konflik Air Upas Disebut Berawal dari Persaingan Usaha

Dalam kesempatan tersebut, Ria Norsan menegaskan bahwa peristiwa yang terjadi di Air Upas tidak semata-mata dipicu konflik sosial biasa. Menurut Ria Norsan, persoalan tersebut berkaitan dengan persaingan usaha, kecemburuan sosial, serta adanya upaya adu domba di tengah masyarakat.

Ria Norsan menyampaikan bahwa persoalan tersebut perlu ditangani secara hati-hati karena melibatkan warga lokal serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Selain itu, Ria Norsan mengungkapkan bahwa insiden pembakaran gudang yang terjadi di wilayah tersebut berdampak pada menurunnya angka pencurian sawit di kawasan sekitar. Saat ini, proses hukum kasus tersebut telah ditangani oleh Kepolisian Daerah Kalimantan Barat.

Dalam perkembangan terakhir, dua orang terduga pelaku telah diamankan, sementara satu orang lainnya masih dalam pencarian dengan inisial J.

Kondisi Jalan Provinsi Diklaim Mengalami Peningkatan

Selain isu keamanan, persoalan infrastruktur juga menjadi perhatian utama dalam dialog tersebut. Ria Norsan memaparkan capaian pembangunan jalan provinsi selama lebih dari satu tahun masa kepemimpinan sejak pelantikan pada Februari 2024.

Data yang disampaikan menunjukkan peningkatan persentase jalan mantap di Kalimantan Barat. Pada tahun 2024, kondisi jalan mantap tercatat sebesar 61 persen. Hingga April 2026, angka tersebut meningkat menjadi 65 persen.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menargetkan persentase jalan mantap mencapai 80 persen pada akhir masa jabatan tahun 2029.

Ria Norsan mengakui keterbatasan anggaran dari pemerintah pusat masih menjadi tantangan utama dalam percepatan pembangunan jalan. Namun, upaya perbaikan terus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten dan kota.

IPM Kalbar Mengalami Kenaikan dalam Dua Tahun Terakhir

Dalam sektor pembangunan manusia, Ria Norsan menyampaikan adanya peningkatan nilai Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Barat.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa IPM Kalbar meningkat dari angka 71,19 pada tahun 2024 menjadi 72,09 pada tahun 2026.

Meski demikian, tantangan di bidang pendidikan masih cukup besar, terutama terkait angka putus sekolah yang disebut mencapai 25 persen.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berencana memperluas kerja sama dengan sektor swasta melalui program pendidikan vokasi. Selain itu, penyediaan program pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C juga akan diperkuat, terutama bagi pekerja yang belum menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah.

Mahasiswa Diminta Sampaikan Tuntutan Secara Detail

Di akhir dialog, Ria Norsan mengajak seluruh pihak untuk mengutamakan komunikasi terbuka dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di masyarakat.

Ria Norsan juga meminta perwakilan mahasiswa untuk menyampaikan dokumen tuntutan secara rinci agar setiap poin dapat dipelajari oleh instansi terkait dan ditindaklanjuti secara menyeluruh.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya membangun komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas sosial di Kalimantan Barat.

FAQ

Apa penyebab konflik di Air Upas menurut Gubernur Kalbar?
Menurut Ria Norsan, konflik dipicu persaingan usaha, kecemburuan sosial, dan adanya upaya adu domba di masyarakat.

Berapa persentase jalan mantap di Kalbar saat ini?
Hingga April 2026, persentase jalan mantap di Kalimantan Barat mencapai 65 persen.

Apa target pembangunan jalan Provinsi Kalbar?
Pemerintah Provinsi Kalbar menargetkan 80 persen jalan mantap pada tahun 2029.

Bagaimana perkembangan IPM Kalbar terbaru?
IPM Kalbar meningkat dari 71,19 pada 2024 menjadi 72,09 pada 2026.

Apa solusi pemerintah untuk menekan angka putus sekolah?
Pemerintah akan memperluas pendidikan vokasi dan program Paket A, B, dan C melalui kerja sama dengan sektor swasta.

Polres Landak Ringkus Tiga Pengedar Sabu Di Ngabang, Salah Satu Residivis

Foto: Tersangka pengedar beserta barang bukti narkotika jenis sabu di Kecamatan Ngabang 

LANDAK - Satuan Reserse Narkoba Polres Landak menangkap tiga pengedar narkotika jenis sabu di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.30 WIB.

Penangkapan bermula dari informasi masyarakat terkait adanya peredaran sabu di Dusun Hilir Tengah II, Desa Hilir Tengah, Kecamatan Ngabang. Menindaklanjuti laporan tersebut, Satresnarkoba Polres Landak langsung melakukan penyelidikan di lokasi.

Setelah memastikan keberadaan terduga pelaku, petugas melakukan penindakan. Dua terduga pelaku berinisial R dan G diamankan saat mengendarai sepeda motor Yamaha Aerox warna merah di Gang Bahtera, Dusun Hilir Tengah II.

Saat digeledah, dari R ditemukan satu plastik klip transparan berisi kristal diduga sabu seberat bruto 1,06 gram di saku celana kanan. Di saku jaket kanan ditemukan satu plastik klip kosong dan satu sendok dari potongan pipet putih. Di saku jaket kiri ditemukan satu plastik klip berisi kantong klip kosong. Sementara dari G diamankan satu unit handphone Vivo Y16 warna Stellar Black dari tangan kiri.

Dari hasil pengembangan, keduanya mengaku memperoleh sabu dari terduga pelaku berinisial EI di Dusun Pulau Bendu, Desa Hilir Tengah. Petugas kemudian bergerak menangkap EI dan menggeledah rumah serta badannya. Ditemukan barang bukti sabu seberat bruto 0,45 gram.

Ketiga terduga pelaku R, G, dan EI beserta barang bukti langsung dibawa ke Polres Landak untuk proses penyidikan lebih lanjut.

Kapolres Landak AKBP Devi Ariantari, S.H., S.I.K. melalui Kasat Resnarkoba Polres Landak IPTU Yulianus Van Chanel TK, S.I.P. membenarkan penangkapan tersebut.

"Benar telah melakukan penangkapan terhadap tiga terduga pelaku pengedar sabu di Dusun Hilir Tengah II dan Dusun Pulau Bendu. Terduga pelaku EI adalah residivis kasus narkotika yang pernah ditangani Satresnarkoba Polres Landak," jelas Yulianus, Selasa (28/4/2026).

Ia mengapresiasi peran masyarakat yang aktif memberikan informasi. “Tanpa dukungan masyarakat, pengungkapan kasus seperti ini tentu akan lebih sulit. Kami juga menegaskan Polres Landak akan terus berkomitmen memberantas peredaran narkotika hingga ke akar-akarnya demi menjaga generasi muda dari bahaya narkoba,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kasat Resnarkoba menyampaikan pihaknya masih melakukan pendalaman dan pengembangan untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan lain yang terlibat.

Polres Landak juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan jika mengetahui adanya aktivitas penyalahgunaan dan peredaran narkotika di lingkungan sekitar. "Terutama aparat desa kiranya tidak sungkan bila kami minta didampingi saat lakukan penggeledahan karena itu yang diamanahkan undang-undang," tegasnya.

Dukungan masyarakat dinilai sangat penting dalam upaya menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari narkoba.

27 April 2026

Naik Dango Ke-41 Di Kubu Raya Jadi Momen Bersejarah Pemersatu Dayak

Foto: Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan dan Bupati kubu Raya H Sujiwo Memukul Gong Sebanyak Tujuh Kali Dalam Pembuka Naik Dango Ke-41 di Kabupaten Kubu Raya

KUBU RAYA - Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menyebut perayaan Naik Dango tahun ini menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Dayak di Kalbar. Hal itu disampaikan saat membuka Naik Dango ke-41 di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Senin (27/4/2026).

Menurut Krisantus, penyelenggaraan Naik Dango kali ini memiliki makna istimewa karena mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat Dayak dalam satu ruang kebersamaan.

“Ini adalah perayaan Naik Dango yang sangat bersejarah. Tiga kabupaten bersatu dalam satu kegiatan adat yang sakral. Ini menunjukkan bahwa budaya kita tidak hanya dijaga, tetapi juga dirayakan bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Naik Dango merupakan ungkapan syukur masyarakat Dayak atas hasil kerja selama satu tahun, khususnya di bidang pertanian. Tradisi ini juga menjadi titik awal untuk memulai kembali aktivitas berladang dan bersawah menghadapi musim tanam berikutnya.

Dalam kesempatan itu, Krisantus mengajak masyarakat memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam kepercayaan Dayak dikenal sebagai Jubata, agar usaha ke depan diberi keberhasilan dan keberkahan.

“Kita berdoa kepada Jubata agar kerja-kerja kita ke depan dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan panen yang lebih baik lagi,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjadikan Naik Dango sebagai momentum pelestarian budaya di tengah arus globalisasi.

“Di era globalisasi ini, suku atau bangsa yang tidak melestarikan budayanya akan perlahan hilang ditelan zaman. Oleh karena itu, kita harus terus menjaga, mencintai, dan melestarikan adat istiadat kita,” tegasnya.

Momen Kebersamaan Pada Pembukaan Naik Dango ke-41 di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Senin (27/4/2026)

Sementara itu, Bupati Kubu Raya, H. Sujiwo, menegaskan budaya merupakan jati diri bangsa yang harus dijaga seluruh elemen masyarakat. Ia mengapresiasi pelaksanaan Naik Dango ke-41 di Desa Lingga sebagai wujud nyata pelestarian budaya Dayak.

“Budaya ini sangat penting. Budaya adalah jati diri bangsa. Hari ini budaya masyarakat Dayak bukan hanya menjadi identitas masyarakat Dayak itu sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia,” ujarnya.

Sujiwo mengingatkan, jika masyarakat adat tidak menjaga dan melestarikan budayanya, adat istiadat tersebut dapat hilang ditelan zaman.

“Oleh karena itu, sebagai bentuk jati diri bangsa, kita harus merawat, menjaga, dan melestarikan budaya semua etnis yang ada, baik di Kabupaten Kubu Raya maupun di Nusantara,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Kubu Raya mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,22 miliar untuk Naik Dango ke-41. Rinciannya, Rp300 juta untuk pelaksanaan kegiatan dan Rp920 juta untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan.

Selain itu, Pemkab juga berencana mengembangkan kawasan Rumah Betang sebagai destinasi budaya unggulan dengan tetap mempertahankan nilai keasliannya.

“Kawasan ini memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Akan kita tata dan kembangkan tanpa menghilangkan keasliannya, sehingga bisa menjadi cagar budaya sekaligus destinasi wisata,” jelasnya.

Sujiwo juga menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk kembali menggelar Naik Dango di Kubu Raya pada 2029 mendatang. “Insya Allah tahun 2029 kita siap menggelar Naik Dango di Kubu Raya dengan lebih baik lagi,” pungkasnya.

Ketua Panitia Naik Dango ke-41, Lorensius, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upacara adat masyarakat Dayak Kanayatn yang dilaksanakan di tiga kabupaten di Kalbar.

“Tradisi ini bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga wujud rasa syukur serta kebersamaan dalam menjaga adat, budaya, dan kearifan lokal,” ujarnya.

Ia berterima kasih kepada pemerintah daerah dan para donatur yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Diharapkan nilai-nilai adat Dayak Kanayatn semakin kuat, tetap lestari, dan terus diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu peserta, Yeheskiel Chandra, anggota kontingen dari Kecamatan Sebangki, mengaku bersyukur dapat berpartisipasi.

“Kami sangat bersyukur bisa hadir di sini. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun pada 25 sampai 28 April. Kami mengucapkan syukur atas hasil panen yang kami persembahkan kepada Jubata, serta berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung,” ujarnya.

Ia berharap Naik Dango terus dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk pelestarian budaya dan kebersamaan masyarakat Dayak.

Perayaan Naik Dango ke-41 ini diharapkan terus menjadi warisan budaya yang lestari serta memperkuat persatuan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. (Jm)

BKSDA Kalbar Evakuasi Orangutan Di Kayong Utara, Konflik Dengan Warga Berhasil Dicegah

BKSDA Kalbar bersama YIARI mentranslokasikan orangutan dari kebun warga di Kayong Utara ke Taman Nasional Gunung Palung untuk mencegah konflik manusia dan satwa liar.
BKSDA Kalbar bersama YIARI mentranslokasikan orangutan dari kebun warga di Kayong Utara ke Taman Nasional Gunung Palung untuk mencegah konflik manusia dan satwa liar.

KAYONG UTARA - Upaya pencegahan konflik antara manusia dan satwa liar kembali dilakukan di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) memindahkan satu individu orangutan dari kawasan permukiman warga di Dusun Pemangkat Jaya, Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir.

Langkah tersebut dilakukan setelah laporan warga mengenai kemunculan orangutan di area perkebunan sejak akhir tahun lalu. Dalam beberapa hari terakhir sebelum evakuasi, satwa dilindungi tersebut diketahui semakin sering berada di sekitar kebun milik warga, sehingga menimbulkan kekhawatiran sekaligus potensi kerugian.

Asisten Manager Orangutan Protection Unit YIARI, Muhadi, menjelaskan bahwa proses translokasi dilakukan melalui koordinasi lintas instansi. Balai Taman Nasional Gunung Palung, unsur TNI-Polri, serta masyarakat setempat turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Muhadi menyampaikan bahwa pemindahan satwa tidak dilakukan secara terburu-buru. Sebelum translokasi diputuskan, berbagai alternatif penanganan telah dipertimbangkan melalui proses asesmen menyeluruh.

Keberadaan orangutan yang mulai menetap di area perkebunan dinilai berisiko menimbulkan konflik yang lebih luas apabila tidak segera ditangani. Karena itu, translokasi dipilih sebagai langkah terakhir demi menjaga keselamatan satwa sekaligus melindungi warga.

Tim gabungan memulai evakuasi sejak pagi hari dengan menggunakan senapan bius yang dioperasikan petugas berizin. Dokter hewan turut memastikan dosis anestesi yang diberikan sesuai kondisi satwa agar proses berjalan aman.

Dokter hewan YIARI, Rachel, melakukan pemeriksaan medis menyeluruh sebelum proses pemindahan dilakukan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya luka alami pada bagian wajah dan lengan kiri, serta fraktur pada gigi.

Namun, Rachel memastikan kondisi tersebut telah pulih dan tidak memengaruhi kesehatan secara umum. Pemeriksaan menyimpulkan bahwa orangutan dalam kondisi sehat serta layak untuk dipindahkan ke habitat baru.

Setelah pemeriksaan selesai, orangutan dipindahkan menuju kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang dinilai memiliki tingkat perlindungan tinggi serta ketersediaan pakan yang memadai.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran berlangsung sekitar dua jam dengan kombinasi transportasi darat dan air. Setibanya di lokasi, proses pelepasliaran turut melibatkan masyarakat sekitar sebagai bentuk dukungan terhadap upaya konservasi.

Respons satwa setelah dilepas dinilai positif. Orangutan segera bergerak menjauh dan memperlihatkan perilaku liar yang menunjukkan kesiapan untuk kembali beradaptasi dengan habitat alaminya.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Menurut Murlan Dameria Pane, kerja sama lintas instansi menjadi faktor penting dalam memastikan proses translokasi berjalan aman dan efektif.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menambahkan bahwa perubahan tata guna lahan yang berlangsung cepat menjadi tantangan serius bagi kelangsungan hidup orangutan.

Silverius Oscar Unggul menilai perencanaan tata ruang yang terintegrasi diperlukan agar aktivitas manusia dan keberadaan satwa liar dapat berjalan berdampingan secara berkelanjutan.

Polisi Ketapang Bongkar Rantai Peredaran Sabu, 103 Gram Disita

Polisi Ketapang mengungkap jaringan sabu di Delta Pawan. Tiga pelaku ditangkap dan 103 gram sabu diamankan, sementara satu tersangka masih buron. (Gambar ilustrasi)
Polisi Ketapang mengungkap jaringan sabu di Delta Pawan. Tiga pelaku ditangkap dan 103 gram sabu diamankan, sementara satu tersangka masih buron. (Gambar ilustrasi)

KETAPANG - Aparat kepolisian di Kabupaten Ketapang terus memperketat pengawasan terhadap peredaran narkotika di wilayah perkotaan. Hasilnya, serangkaian penangkapan dilakukan setelah petugas menerima laporan masyarakat mengenai aktivitas mencurigakan di Kecamatan Delta Pawan.

Tim gabungan dari Polsek Delta Pawan dan Satuan Reserse Narkoba Polres Ketapang mengungkap jaringan peredaran sabu yang melibatkan sejumlah warga setempat. Dalam pengungkapan tersebut, tiga pria berinisial A (30), I (31), dan YA (31) diamankan secara bertahap di lokasi berbeda.

Kasat Narkoba Polres Ketapang AKP I Dewa Made Surita menjelaskan bahwa kasus ini bermula dari laporan masyarakat terkait dugaan kepemilikan narkotika di kawasan Jalan Merak, Kelurahan Sampit.

Petugas kemudian melakukan penyelidikan mendalam hingga akhirnya menangkap A di wilayah tersebut. Dari hasil penggeledahan awal, petugas menemukan tiga paket sabu dengan berat total 0,51 gram bruto.

Hasil pemeriksaan terhadap A mengarah pada pengembangan kasus. A mengaku memperoleh barang terlarang tersebut dari I yang berada di Desa Kali Nilam, Kecamatan Delta Pawan.

Petugas segera bergerak melakukan pengembangan dan berhasil menangkap I di sebuah kamar kos. Dalam penggeledahan di lokasi tersebut, polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa timbangan elektrik, alat hisap sabu atau bong, serta perlengkapan lain yang diduga digunakan dalam aktivitas peredaran narkotika.

Pengembangan kembali dilakukan setelah pemeriksaan terhadap I. Dari hasil interogasi, sabu yang dimiliki I disebut berasal dari YA yang saat itu berada di salah satu penginapan di wilayah Delta Pawan.

Petugas kemudian bergerak cepat menuju lokasi yang dimaksud dan berhasil mengamankan YA. Dari keterangan YA, jaringan peredaran narkotika tersebut diketahui berawal dari seorang pria berinisial HAP.

Petugas selanjutnya melakukan penggeledahan di rumah HAP yang berada di Kelurahan Kauman, Kecamatan Benua Kayong. Dalam penggeledahan tersebut, polisi menemukan lima paket sabu dengan berat total 103,69 gram bruto serta satu butir pil ekstasi berwarna kuning.

Namun, HAP tidak berada di lokasi saat penggeledahan dilakukan. Identitas HAP telah dikantongi aparat dan saat ini masuk dalam daftar pencarian orang.

AKP I Dewa Made Surita menegaskan bahwa proses pendalaman kasus masih terus dilakukan untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas di wilayah Kabupaten Ketapang.

Kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk terus berperan aktif melaporkan aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan peredaran narkotika di lingkungan sekitar.

Spektakuler! Penutupan Naik Dango ke-3 Pontianak Dipadati Lebih dari 50 Ribu Pengunjung

Foto: Rangkaian kegiatan budaya Naik Dango ke-3 Kota Pontianak resmi ditutup pada Sabtu malam (25/4/2026) pukul 19.00 WIB di Rumah Radakng, Jalan Sutan Syahrir, Pontianak Selatan

PONTIANAK - Malam penutupan perayaan budaya Naik Dango ke-3 Kota Pontianak yang digelar oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Kegiatan yang berlangsung sejak 17 hingga 25 April 2026 ini ditutup secara resmi pada Sabtu malam di Rumah Radakng, dengan dihadiri lebih dari 50 ribu pengunjung.

Penutupan acara dilakukan oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, yang diwakili oleh Asisten I Bidang Kesejahteraan Rakyat, Ismail Abdurahman. Turut hadir sejumlah pejabat daerah dan tokoh penting, di antaranya perwakilan Gubernur Kalimantan Barat, Staf Ahli Ekonomi Pembangunan Yosafat Triadhi Andjioe, Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Yakobus Kumis, Sekretaris Umum DAD Provinsi Kalimantan Barat Thadeus Yus, serta Dandim 1207 - Pontianak Letkol Inf Robbi Firdaus.

Ketua DAD Kota Pontianak, Yonahes Nenes, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan Naik Dango tahun ini. Ia menegaskan bahwa rangkaian kegiatan berjalan lancar sejak hari pertama hingga penutupan, meskipun sempat diguyur hujan deras.

“Antusiasme masyarakat luar biasa. Walaupun hujan lebat, pengunjung tetap memadati area Rumah Radakng. Ini menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap budaya,” ujarnya.

Yonahes menambahkan, berbagai agenda seperti karnaval budaya, tarian panopo, hingga perlombaan adat berjalan dengan baik. Bahkan, kegiatan ini juga menarik wisatawan mancanegara, termasuk dari Sarawak, Malaysia, dan Belanda.

Tak hanya sebagai ajang pelestarian budaya, Naik Dango juga berdampak positif terhadap sektor ekonomi masyarakat. Puluhan stan UMKM, mulai dari kuliner hingga pameran kerajinan, dipadati pengunjung selama kegiatan berlangsung.

Sementara itu, Ketua Panitia Naik Dango ke-3, Vandrektus Derek, mengungkapkan bahwa keberhasilan acara ini tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kota Pontianak serta aparat keamanan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Pontianak yang telah menetapkan Naik Dango sebagai kalender pariwisata. Dukungan aparat keamanan juga sangat membantu dalam menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung,” katanya.

Ia juga mengapresiasi kedisiplinan masyarakat yang turut menjaga keamanan dan kebersihan selama acara. Koordinasi intensif antara panitia, pemerintah daerah, serta pihak kepolisian dinilai menjadi kunci suksesnya penyelenggaraan event tahunan tersebut.

Selama sepekan pelaksanaan, rangkaian kegiatan Naik Dango meliputi misa syukur, ritual adat, karnaval budaya, pertunjukan seni, hingga penampilan artis Dayak di panggung utama. Partisipasi pelaku UMKM juga meningkat signifikan, bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Meski hujan turun hampir setiap hari, hal itu tidak menyurutkan minat masyarakat untuk datang dan menikmati seluruh rangkaian kegiatan,” tambah Vandrektus.

Ke depan, DAD Kota Pontianak memastikan bahwa kegiatan budaya seperti Naik Dango akan terus dilaksanakan sebagai upaya mempererat persatuan lintas etnis, agama, dan budaya di Kota Pontianak.

Perayaan Naik Dango sendiri merupakan tradisi adat Dayak sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, yang kini berkembang menjadi agenda budaya dan pariwisata unggulan di Kalimantan Barat. (Tim/Jm)

26 April 2026

Karolin Margret Natasa Tekankan Adaptasi Saat Lantik Pemuda Dayak Landak

Karolin Margret Natasa melantik Pemuda Dayak Landak dan menekankan pentingnya adaptasi, kolaborasi, serta kesiapan menghadapi tantangan era digital bagi generasi muda.
Karolin Margret Natasa melantik Pemuda Dayak Landak dan menekankan pentingnya adaptasi, kolaborasi, serta kesiapan menghadapi tantangan era digital bagi generasi muda.

Landak — Momentum penguatan peran generasi muda menjadi sorotan dalam pelantikan kepengurusan organisasi Pemuda Dayak Kabupaten Landak yang digelar di Aula Besar Kantor Bupati Landak, Jumat (24/4/2026). Agenda tersebut sekaligus dirangkaikan dengan Seminar Nasional bertema kolaborasi pemuda yang menghadirkan sejumlah tokoh dari tingkat nasional hingga daerah.

Bupati Landak Karolin Margret Natasa menegaskan bahwa organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak generasi yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa.

Dalam sambutannya, Karolin Margret Natasa menekankan bahwa keberadaan Pemuda Dayak harus menjadi ruang pembinaan generasi muda yang kritis, berdaya saing, serta memiliki kepedulian terhadap kemajuan daerah dan negara.

Menurut Karolin Margret Natasa, semangat perjuangan yang selama ini dikenal dalam filosofi organisasi perlu dimaknai ulang sesuai perkembangan zaman. Perjuangan generasi muda saat ini, kata Karolin Margret Natasa, bukan lagi dalam bentuk fisik, melainkan menghadapi tantangan sosial, ekonomi, serta perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Dalam arahannya, Karolin Margret Natasa mengingatkan pentingnya kemampuan beradaptasi sebagai syarat utama untuk bertahan di tengah perubahan global. Analogi kepunahan dinosaurus digunakan sebagai gambaran bahwa kelompok yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan berpotensi tertinggal.

Karolin Margret Natasa menilai masyarakat adat, termasuk generasi muda Dayak, perlu mempersiapkan diri menghadapi transformasi zaman yang semakin dinamis. Kesiapan tersebut mencakup peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan teknologi, serta pemahaman terhadap perkembangan dunia digital.

Selain itu, Karolin Margret Natasa juga menyoroti ancaman baru di era digital, seperti penipuan berbasis kecerdasan buatan dan praktik love scam yang kerap menyasar masyarakat. Kewaspadaan terhadap ancaman siber dinilai penting agar generasi muda tidak menjadi korban perkembangan teknologi yang tidak bertanggung jawab.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pemuda Dayak Kabupaten Landak Albertus Trio Kusuma menyampaikan komitmen organisasi untuk berperan sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan daerah.

Albertus Trio Kusuma menyatakan bahwa kolaborasi antara organisasi kepemudaan dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

Pelantikan kepengurusan baru dinilai sebagai tonggak awal bagi penguatan gerakan pemuda di Kabupaten Landak. Albertus Trio Kusuma juga mengajak seluruh pengurus yang baru dilantik untuk menjaga keberlanjutan organisasi serta aktif dalam kegiatan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Dalam arahannya, Karolin Margret Natasa mengingatkan bahwa identitas budaya Dayak tidak semata-mata diwujudkan melalui simbol seperti pakaian adat atau tarian tradisional. Nilai-nilai luhur budaya dinilai harus diwujudkan dalam sikap hidup, etos kerja, serta kontribusi terhadap kemajuan masyarakat modern.

Disiplin organisasi dan manajemen waktu juga menjadi pesan penting yang disampaikan kepada para pengurus. Karolin Margret Natasa menilai pengelolaan waktu yang baik menjadi fondasi bagi keberhasilan organisasi dalam menjalankan program kerja.

Di akhir kegiatan, Karolin Margret Natasa berharap Pemuda Dayak Kabupaten Landak mampu berperan dalam pembangunan masyarakat Kalimantan Barat tanpa meninggalkan nilai persatuan dan kebersamaan.

Semangat kolaborasi yang diusung dalam pelantikan tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi generasi muda sebagai penggerak perubahan, sekaligus menjaga keberlanjutan budaya Dayak di tengah arus globalisasi.

FAQ 

Apa tujuan pelantikan Pemuda Dayak Kabupaten Landak?
Pelantikan bertujuan membentuk kepengurusan baru yang mampu memperkuat peran pemuda sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah.

Apa pesan utama Bupati Landak dalam pelantikan tersebut?
Karolin Margret Natasa menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan zaman, peningkatan kualitas SDM, serta kewaspadaan terhadap ancaman digital.

Mengapa kemampuan beradaptasi menjadi sorotan utama?
Kemampuan beradaptasi dinilai penting untuk menghadapi perubahan teknologi, sosial, dan ekonomi yang berlangsung sangat cepat di era modern.

Apa komitmen Pemuda Dayak setelah pelantikan?
Organisasi berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan pemerintah serta menciptakan generasi muda yang unggul dan berdaya saing.

Apa makna identitas Dayak menurut Bupati Landak?
Identitas Dayak tidak hanya berupa simbol budaya, tetapi juga nilai-nilai luhur yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan pembangunan masyarakat.

Oleh: Tino

Warga Ketapang jadi Korban Sindikat Mobil Bodong Melibatkan Debt Colektor

D (baju kaos oblong putih) saat transaksi membayar mobil dengan terduga pelaku bernama Sulianto (baju kaos merah les hitam).

Ketapang, BORNEO TRIBUN - D (34) warga desa Kalinilam kecamatan Delta Pawan mengaku jadi korban sindikat jual beli mobil bodong, surat asli tapi palsu (aspal). Pelakunya diduga kelompok Debt Colektor (DC). Ia mengaku alami kerugian sebesar Rp 200 juta. 

Mirisnya kasus ini sudah dilaporkan ke Polisi Daerah (Polda) Kalimantan Barat, dilengkapi dengan bukti pembayaran dan identitas terduga pelaku penipuan atas nama. Tetapi semenjak dilaporkan, penyelidikannya terkesan mandek. 

Ia menceritakan peristiwa yang menimpanya itu. Menurut dia, sekitar bulan Januari 2024, ia diberitahukan oleh temanya bahwa ada seseorang bernama Sulianto warga Pontianak menawarkan satu unit mobil jenis Pajero rakitan tahun 2016 seharga Rp 200 juta. 

"Saat diberitahukan itu saya belum minat. Tapi, pas saya ke Pontianak, saya menghubungi Sulianto itu, awalnya liat-liat  unit dulu, belum ada transaksi apapun saat itu," ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Selanjutnya, setelah balik ke Ketapang, dirinya mengaku dihubungi Sulianto yang kembali menawarkan mobil. 

"Saya setuju, dan saya bayar tanda jadi atau DP sebesar 45 juta. Tapi saat itu, STNK, BPKB sudah ditangan saya. Sisanya dilunasi sampai bulan Juli tahun 2024 secara transfer bank," katanya. 

Tetapi selang dua minggu kemudian setelah mobil tersebut lunas, Ia didatangi tiga orang kelompok debt colektor (DC) dari leasing Mandiri Utama Finance (MUF). Tujuannya menarik mobil yang ada dengan saya dengan tuduhan mobil saya nunggak kredit macet. 

"Debt Colektor datang secara tiba-tiba menarik mobil saya dengan tuduhan mobil itu masih kredit di MUF. Saya endak mau ributlah, sayapun memberikan mobil itu kepada DC itu," katanya. 

Atas kasus ini, Ia sudah melaporkan ke pihak Kepolisian Daerah Kalimantan Barat pada bulan Maret tahun 2025. Tetapi, semenjak laporan sampai sekarang, Ia tidak mengetahui perkembangan kasusnya. 

"Bahkan saya minta informasi laporan saya seperti surat perkembangan penyidikan (SP2HP-red), pihak kepolisian tidak memberikan, termasuk surat laporan saya," katanya. 

Kasus ini sudah meresahkan, karena terindikasi melibatkan sindikat penipuan terorganisir. Korban meminta, kasus yang menimpanya segera diungkap. Diperkirakan, korban kasus seperti ini di Ketapang banyak. 

"Saya berharap kasus saya ini segera diusutlah. Banyak mungkin di Ketapang ini jadi korban," tandasnya. (mzn).

25 April 2026

Rumah Joglo Di Bengkayang Disiapkan Jadi Ikon Wisata Dan Edukasi Budaya

Pemkab Bengkayang membangun Rumah Adat Joglo di Taman SDR sebagai pusat budaya dan destinasi wisata baru yang mendukung pelestarian budaya Jawa.
Pemkab Bengkayang membangun Rumah Adat Joglo di Taman SDR sebagai pusat budaya dan destinasi wisata baru yang mendukung pelestarian budaya Jawa.

BENGKAYANG - Pemerintah Kabupaten Bengkayang mulai membangun Rumah Adat Joglo di kawasan Taman SDR (Sekayo Damai Raya) sebagai bagian dari strategi memperkuat identitas budaya sekaligus membuka peluang baru di sektor pariwisata daerah.

Langkah ini tidak hanya menambah fasilitas fisik di ruang publik, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan pusat aktivitas budaya yang dapat dimanfaatkan masyarakat lintas generasi.

Fokus Pada Ruang Interaksi Budaya

Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, menegaskan bahwa pembangunan rumah adat tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar pembangunan infrastruktur.

Menurutnya, keberadaan Joglo di kawasan taman kota diharapkan menjadi tempat bertemunya berbagai unsur budaya di tengah masyarakat yang beragam.

Ia menyebut, rumah adat tersebut dirancang untuk menjadi ruang interaksi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan seni, edukasi budaya, serta kegiatan sosial masyarakat.

Selain itu, pembangunan Joglo juga diharapkan mampu memperkuat rasa kebersamaan di tengah keberagaman budaya yang ada di Kabupaten Bengkayang.

Disiapkan Jadi Pusat Budaya Masyarakat Jawa

Rumah Adat Joglo nantinya akan difungsikan sebagai pusat kegiatan budaya masyarakat Jawa yang tinggal di Bengkayang.

Beragam kegiatan seperti pertunjukan seni tradisional, pelatihan budaya, hingga kegiatan komunitas direncanakan berlangsung di lokasi tersebut.

Pemerintah daerah menilai, fasilitas ini akan memperkaya ragam budaya lokal serta menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Dengan demikian, keberadaan Joglo diharapkan tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadikannya tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern.

Potensi Baru Untuk Pariwisata Daerah

Wakil Bupati Bengkayang, Syamsul Rizal, menilai pembangunan Rumah Adat Joglo juga berpotensi meningkatkan daya tarik wisata di wilayah tersebut.

Menurutnya, pengembangan destinasi berbasis budaya memiliki peluang besar untuk menarik minat wisatawan, terutama yang tertarik dengan kekayaan tradisi lokal.

Selain memberi nilai tambah bagi sektor pariwisata, kegiatan budaya yang berlangsung di Joglo juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Misalnya melalui penyediaan jasa, penjualan produk kerajinan, hingga kegiatan ekonomi kreatif lainnya.

Bagian Dari Pembangunan Berbasis Keberagaman

Pembangunan Rumah Adat Joglo di Taman SDR menjadi salah satu langkah pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Pendekatan berbasis keberagaman budaya dinilai penting untuk memastikan setiap kelompok masyarakat memiliki ruang untuk mengekspresikan identitas budayanya.

Dengan adanya fasilitas ini, pemerintah berharap pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi dan sektor pariwisata di Kabupaten Bengkayang.

FAQ

1. Di mana lokasi pembangunan Rumah Adat Joglo di Bengkayang?
Rumah Adat Joglo dibangun di kawasan Taman SDR (Sekayo Damai Raya), Kabupaten Bengkayang.

2. Apa tujuan pembangunan Rumah Adat Joglo tersebut?
Tujuannya untuk melestarikan budaya Jawa, menyediakan ruang kegiatan budaya, serta mendukung pengembangan pariwisata daerah.

3. Siapa yang menggagas pembangunan Rumah Adat Joglo di Bengkayang?
Pembangunan ini merupakan program Pemerintah Kabupaten Bengkayang yang dipimpin oleh Bupati Sebastianus Darwis.

4. Apa manfaat Rumah Adat Joglo bagi masyarakat?
Manfaatnya antara lain sebagai pusat kegiatan budaya, sarana edukasi, destinasi wisata, serta peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

5. Kapan pembangunan Rumah Adat Joglo dimulai?
Pembangunan dimulai dengan kegiatan peletakan batu pertama oleh pemerintah daerah pada hari Jumat.

24 April 2026

Lomba Masak Pansoh Meriahkan Naik Dango Ke-3

Foto: Memasak dalam bambu atau biasa disebut Pansoh wujud pelestarian tradisi kuliner khas

PONTIANAK - Tradisi masak pansoh kembali hadir dalam perayaan Naik Dango Ke-3 yang digelar Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak, Kamis (23/4/2026). Memasak dengan bambu ini bukan sekadar menyajikan kuliner khas, tetapi juga membawa pesan tentang hubungan harmonis manusia dengan alam.

Dalam lomba tersebut, peserta memulai proses dengan mengambil bahan langsung dari lingkungan sekitar. Ikan segar diperoleh dari sungai, sedangkan bumbu alami diracik dari hasil hutan. Seluruh bahan dibersihkan, dicampur, lalu dimasukkan ke dalam batang bambu sebagai wadah memasak.

Proses pemasakan dilakukan secara tradisional menggunakan bara api. Teknik warisan leluhur ini dulu biasa dipakai saat berladang atau berburu di hutan. Selain praktis, metode ini tidak membutuhkan peralatan modern karena semua kebutuhan tersedia dari alam.

Setelah dimasak sekitar satu jam, hidangan pansoh disajikan beralaskan daun simpur. Selain keaslian bumbu dan cita rasa, penataan hidangan juga menjadi salah satu aspek penilaian juri.

Juri dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Noberta, mengatakan kegiatan ini bertujuan mengenalkan kembali tradisi kepada generasi muda.

“Melalui lomba ini kami mengajak generasi muda memahami cara hidup leluhur yang memanfaatkan alam secara bijak sekaligus menjaga kelestariannya,” ujar Noberta.

Ia menambahkan, masak pansoh mencerminkan keterkaitan hutan dan sungai sebagai sumber kehidupan masyarakat. Bumbu berasal dari hutan, sedangkan ikan diperoleh dari sungai yang masih terjaga.

Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat perkotaan yang jarang bersentuhan dengan tradisi adat. Dengan praktik langsung, peserta dapat mengenal cara memasak alami yang bebas bahan kimia.

Masak pansoh dalam rangkaian Naik Dango tidak hanya melestarikan kuliner tradisional, tetapi juga memperkuat nilai pelestarian lingkungan yang diwariskan secara turun-temurun. (Jm)



23 April 2026

Harita Group Dorong Ekonomi Kayong Utara Tumbuh Pesat

Harita Group melalui KIPP dorong lonjakan ekonomi Kayong Utara 2025 hingga 5,89 persen. Dampak terasa pada penurunan kemiskinan, kenaikan IPM, serta peluang hilirisasi bauksit berbasis industri berkelanjutan.
Harita Group melalui KIPP dorong lonjakan ekonomi Kayong Utara 2025 hingga 5,89 persen. Dampak terasa pada penurunan kemiskinan, kenaikan IPM, serta peluang hilirisasi bauksit berbasis industri berkelanjutan.
KAYONG UTARA - Di tepian Kalimantan Barat, denyut ekonomi Kabupaten Kayong Utara bergerak naik. Angka 5,89 persen hadir sebagai penanda fase baru. Di balik lonjakan ini, Harita Group muncul sebagai motor utama penggerak perubahan.

Melalui PT Dharma Inti Bersama (PT DIB), Harita Group mengelola Kawasan Industri Pulau Penebang. Harita Group membangun kawasan ini sebagai pusat hilirisasi bauksit. 

Harita Group tidak berhenti pada eksploitasi bahan mentah. Harita Group mendorong transformasi menuju industri bernilai tambah.
Harita Group melalui KIPP dorong lonjakan ekonomi Kayong Utara 2025 hingga 5,89 persen. Dampak terasa pada penurunan kemiskinan, kenaikan IPM, serta peluang hilirisasi bauksit berbasis industri berkelanjutan.
Harita Group melalui KIPP dorong lonjakan ekonomi Kayong Utara 2025 hingga 5,89 persen. Dampak terasa pada penurunan kemiskinan, kenaikan IPM, serta peluang hilirisasi bauksit berbasis industri berkelanjutan.
Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya, menegaskan capaian tersebut. Ia menyampaikan, “Pertumbuhan ekonomi Kayong Utara mengalami kenaikan signifikan… mencapai 5,89 persen.” 

Pernyataan ini mempertegas dampak investasi Harita Group terhadap ekonomi daerah.

Dalam lanskap pembangunan, Harita Group menjadi simpul penting. Harita Group menghubungkan investasi, teknologi, serta pasar global. Harita Group menciptakan ekosistem industri baru di wilayah pesisir.

Hilirisasi Nilai Tambah

Kawasan industri Pulau Penebang menjadi bukti strategi Harita Group. Harita Group mengolah bauksit menjadi alumina. Harita Group membangun rantai produksi dari hulu ke hilir.

Langkah Harita Group meningkatkan nilai tambah secara signifikan. Harita Group membuka peluang produksi aluminium terintegrasi. Harita Group menempatkan Kayong Utara dalam peta industri global.

Bupati Romi menegaskan, “Keberadaan Proyek Strategis Nasional di Pulau Penebang berkontribusi pada pencapaian angka pertumbuhan ini.” Pernyataan ini menguatkan posisi Harita Group sebagai katalis ekonomi.

Dalam perspektif bisnis, Harita Group selaras dengan arah hilirisasi nasional. Harita Group membangun nilai jangka panjang, bukan sekadar profit sesaat.

Dampak kehadiran Harita Group terlihat pada penurunan angka kemiskinan. Dari 9,56 persen pada 2020 menjadi 8,75 persen pada 2025. Harita Group mulai menghadirkan efek nyata bagi masyarakat.

Serap Tenaga Kerja Lokal

Indeks Pembangunan Manusia meningkat dari 62,66 poin menjadi 67,60 poin. Kenaikan ini tidak lepas dari aktivitas ekonomi yang digerakkan Harita Group. Sebanyak 1.800 tenaga kerja lokal terserap dalam proyek. 
Harita Group melalui KIPP dorong lonjakan ekonomi Kayong Utara 2025 hingga 5,89 persen. Dampak terasa pada penurunan kemiskinan, kenaikan IPM, serta peluang hilirisasi bauksit berbasis industri berkelanjutan.
Harita Group melalui KIPP dorong lonjakan ekonomi Kayong Utara 2025 hingga 5,89 persen. Dampak terasa pada penurunan kemiskinan, kenaikan IPM, serta peluang hilirisasi bauksit berbasis industri berkelanjutan.
Ketua Pansus DPRD Kayong Utara, Ishak ST,  menyampaikan, “DPRD berterima kasih kepada PT DIB karena sudah mempekerjakan tenaga kerja lokal.” 

Kontribusi ini mempertegas peran Harita Group dalam membuka lapangan kerja.
Namun, Harita Group menghadapi tantangan peningkatan kualitas SDM. 

Harita Group membutuhkan tenaga kerja kompeten. Transfer pengetahuan menjadi kunci.

Sementara itu, anggota DPRD Kayong Utara Abdul Rani menyampaikan, “Belum produksi tapi sudah memberikan kontribusi berupa lapangan pekerjaan, pelatihan keterampilan, hingga pemberdayaan masyarakat.” Pernyataan ini menunjukkan efek awal dari aktivitas Harita Group.

Ekosistem Ekonomi Riil

Harita Group tidak berdiri sendiri. Harita Group mendorong keterhubungan sektor pertanian, perikanan, serta UMKM.

Aktivitas Harita Group menciptakan efek berganda. Permintaan bahan baku meningkat. Distribusi berkembang. Peluang usaha muncul. 

Desa Pelapis merasakan langsung dampak kehadiran Harita Group. Perputaran ekonomi meningkat. Usaha kecil tumbuh. Aktivitas ekonomi menjadi lebih hidup.
Harita Group membuka akses pasar baru bagi produk lokal. Harita Group menciptakan rantai ekonomi yang lebih luas.

Pertumbuhan ekonomi yang didorong Harita Group sepenuhnya tercermin pada pendapatan daerah. Ketergantungan terhadap transfer pusat masih tinggi.
Harita Group membuka peluang peningkatan PAD. Aktivitas industri Harita Group berpotensi menjadi sumber pajak baru.

Namun, kebijakan fiskal harus adaptif. Tanpa strategi tepat, manfaat ekonomi dari Harita Group tidak optimal.

Strategi Bisnis Berkelanjutan

Dalam perspektif global, Harita Group menunjukkan arah bisnis berkelanjutan. Harita Group mengintegrasikan hilirisasi, investasi, serta tanggung jawab sosial.

Program CSR menjadi bukti komitmen Harita Group terhadap masyarakat. Bantuan sosial, dukungan energi, serta pembangunan infrastruktur menjadi bagian dari kontribusi nyata.
Harita Group melalui KIPP dorong lonjakan ekonomi Kayong Utara 2025 hingga 5,89 persen. Dampak terasa pada penurunan kemiskinan, kenaikan IPM, serta peluang hilirisasi bauksit berbasis industri berkelanjutan.
Harita Group melalui KIPP dorong lonjakan ekonomi Kayong Utara 2025 hingga 5,89 persen. Dampak terasa pada penurunan kemiskinan, kenaikan IPM, serta peluang hilirisasi bauksit berbasis industri berkelanjutan.
Harita Group memperkuat hubungan dengan komunitas lokal. Harita Group menjaga keberlanjutan operasional melalui pendekatan sosial.

KIPP memiliki luas 2.205,1 hektare. Pengembangan inti mencapai 1.893 hektare. Skala ini mencerminkan ambisi Harita Group.

Harita Group menargetkan kawasan ini sebagai pusat industri smelter. Harita Group berpotensi menjadikan Kayong Utara sebagai simpul industri baru.

Bupati Romi menegaskan, “Target-target pembangunan dapat dicapai bila kita saling bergandeng tangan.” Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan Harita Group.

Peran Harita Group sebagai katalis ekonomi tidak terbantahkan. Harita Group mendorong pertumbuhan cepat.

Namun, pertumbuhan harus inklusif. Harita Group perlu memastikan manfaat tersebar merata. Peningkatan SDM menjadi prioritas utama.

Harita Group perlu mendorong integrasi UMKM. Harita Group harus memperkuat keterhubungan ekonomi lokal.

Pemerintah daerah perlu memperkuat kebijakan fiskal. Momentum pertumbuhan dari Harita Group harus dimanfaatkan secara optimal.

Pulau Penebang kini menjadi simbol perubahan. Di sana, Harita Group membuka jalan transformasi ekonomi.

Harita Group menghadirkan peluang. Harita Group membawa tantangan. Masa depan bergantung pada kolaborasi.

“Target-target pembangunan dapat dicapai bila kita saling bergandeng tangan.” Kalimat itu menjadi penegas arah. Masuk rantai industri Harita Group. Tingkatkan kompetensi. Dorong ekonomi lokal naik kelas.

22 April 2026

Warga Minta Jalan Nasional Depan Kantor Bupati Landak Segera di Perbaiki Sebelum Ambruk Total

Foto kerusakan jalan depan kantor Bupati Landak terlihat bandan jalan sudah
turun dan adanya keretakan di tengah
LANDAK - Kondisi ruas jalan nasional yang berada di depan kantor Bupati Landak, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat kini menjadi sorotan serius oleh masyarakat. Kerusakan jalan tersebut, dinilai semakin hari semakin parah bahkan disebut akan membahayakan keselamatan penguna jalan. Selasa, 21 April 2026.

Melki (28) salah satu warga pengguna jalan mengatakan, kerusakan jalan di depan kantor Bupati Landak tersebut harus segara di perbaiki, karena merupakan akses vital yang setiap hari di lalui berbagi jenis kendaraan.

"Saya takutnya bukan hanya di samping ini yang ambruk, sebab di tengah ini sudah ada keretakan dan untuk bandan jalan juga terlihat sudah turun pondasinya. Sewaktu waktu mobil muatan besar lewat atau mobil dump truck bawa sawit lewat saya yakin lama lama ambruk jalan ini," ungkapnya kepada Borneotribun.com. Selasa, 21 April 2026.

Melki juga mengingatkan, jika tidak segera ditangani, retakan berpotensi membesar dan memicu kerusakan lebih serius, terutama saat curah hujan tinggi yang dapat meningkatkan risiko longsor di sekitar badan jalan dan dapat membuat jalan tersebut ambruk.

"Tolonglah kepada Dinas PUPR Kabupaten, Provinsi maupun Pusat untuk memperhatikan jalan yang menjadi akses vital ini. Karna jalur ini ramai setiap hari digunakan untuk berbagai aktivitas, kalau nasib tidak baik ada yang lewat lalu ambruk kan jadi cerita nantinya," ujar Melki.

(RED)